www.lp2latahzanntb.blogspot.com
Pendahuluan
Ikhtiar manusia dalam mengatasi penyakit yang dideritanya telah
berkembang sejak ribuan tahun lalu. Berawal dari insting yang diberikan
Allah, manusia mampu mengatasi penyakitnya. Selanjutnya pengetahuan
mengenai penyakit dan ilmu pengobatan terus berkembang seiring
perkembangan peradaban manusia.
Dalam perjalanannya, ilmu pengetahuan seolah-olah terbagi dua kutub
yang berbeda, antara pengobatan timur dan pengobatan barat. Kini
seakan-akan barat mengklaim perkembangan ilmu kedokteran saat ini murni
dari peradaban barat.
Padahal, ketika era kegelapan mencengkram Barat pada abad
pertengahan, perkembangan ilmu kedokteran diambil alih dunia Islam yang
tengah berkembang pesat di Timur Tengah. Pada abad ke-9 M hingga ke-13
M, dunia kedokteran Islam berkembang begitu pesat. Sejumlah Rumah Sakit
besar berdiri. Pada masa kejayaan Islam, Rumah Sakit tak hanya berfungsi
sebagai tempat perawatan dan pengobatan para pasien, namun juga menjadi
tempat menimba ilmu para dokter baru.
Sekolah kedokteran pertama yang dibangun umat Islam adalah sekolah
Jindi Shapur di Baghdad. Khalifah Al-Mansur dari Dinasti Abbasiyah yang
mendirikan kota Baghdad mengangkat Judis Ibn Bahtishu sebagai dekan
sekolah kedokteran itu. Pendidikan kedokteran yang diajarkan di Jindi
Shapur sangat serius dan sistematik. Era kejayaan Islam telah melahirkan
sejumlah tokoh kedokteran terkemuka, seperti Al-Razi, Al-Zahrawi,
Ibnu-Sina, Ibnu-Rushd, Ibn-Al-Nafis, dan Ibn- Maimon.
Rumah Sakit terkemuka pertama yang dibangun umat Islam berada di
Damaskus pada masa pemerintahan Khalifah Al-Walid dari Dinasti Umayyah
pada 706 M. Namun, rumah sakit terpenting yang berada di pusat kekuasaan
Dinasti Umayyah itu bernama Al-Nuri. Rumah sakit itu berdiri pada 1156
M, setelah era kepemimpinan Khalifah Nur Al-Din Zinki pada 1156 M.
Tak heran, bila penelitian dan pengembangan yang begitu gencar telah
menghasilkan ilmu medis baru. Era kejayaan peradaban Islam ini telah
melahirkan sejumlah dokter terkemuka dan berpengaruh di dunia
kedokteran, hingga sekarang. `’Islam banyak memberi kontribusi pada
pengembangan ilmu kedokteran.”
Perkembangan Kedokteran Pada Masa Sebelum Masehi
Ilmu kedokteran pada masa purba berkembang seiring dengan
perkembangan kecerdasan dan kreativitas manusia. Sejarah mencatat pada
masa purba telah dikenal pijat-memijat, ramu-ramuan obat dan juga
alat-alat perdukunan. Hal ini didasarkan pada insting (gharizah) yang
dianugerahkan Allah Swt, bermula dari pengalaman seseorang salah saru
bagian tubuhnya mengalami sakit, secara refleks ia memijat bagian yang
sakit tersebut. Apa bila tidak mengalami kemajuan mereka mulai melihat
binatang-binatang yang makan buah atau tanaman tertentu bila sakit,
kemudian dicoba sendiri dan bila sembuh diberikan ramuan tersebut pada
orang lain, bahkan sejarah mencatat pada masa purba pula sudah dikenal
pembedahan. Kemudian pengetahuan tersebut diturunkan secara generasi ke
generasi, namun biasanya kemampuan pengobatan tersebut masih diliputi
oleh unsur syirik, penyembahan pada nenek moyang dan sebagainya.
Perkembangan Kedokteran Pada Masa Sebelum Nabi
Masa Sumeria dan Arkadia
Sumeria termasuk wilayah Irak sekarang, yaitu di dekat sungai Furat
(Eufrat) & sungai Dajlah (Tigris). Menurut data sejarah, tabib-tabib
bangsa Sumeria telah mengenal pengobatan sejak 4000 tahun sebelum
masehi. Pada masa tersebut terdapat dua cara pengobatan; Pertama,
menggunakan pengobatan dukun (menggunakan ramuan, pijatan, lalu dijampi
dengan meminta bantuan jin). Kedua, dengan pengobatan yang ilmiah dimasa
itu (ramuan herba, madu, al-kayy bakar, lasah (fisioterapi), bahkan
para tabib telah menuliskan ilmu-ilmunya dalam buku-buku yang dibuat
dari tanah liat.
Sedangkan Arkadia berada di Utara Irak bagian tengah tepatnya di
pertemuan antara sungai Furat (Eufrat) & sungai Dajlah (Tigris),
kedokteran sempat mencapai masa gemilang dimasa Raja Sargon, yang bahkan
dari sejarah dikisahkan putri Raja Sargon, Anhiduana selain menjadi
pendeta juga sebagai pengkaji berbagai jenis pengobatan.
Babilonia
Bangsa Babiluuniyah (Babilon) masih serumpun dengan bangsa Arkadia
dengan Raja Hamurabi sebagai raja sangat terkenal. Dimasa Raja Hamurabi
kemajuan segala ilmu didapat. Bidang kedokteran yang berkembang saat itu
antara lain al-kayy bakar, lasah (fisioterapi), ilmu peramu obat
(farmakologi) dan bahkan konon telah ada obat-obatan jaman Babilonia
dalam bentuk pil. Dibidang kedokteran didapati yang terkenal dimasa itu
adalah dibedakannya antara tabib dengan kahin (dukun). Tabib berperan
sebagaiahli pengobatan yang jauh dari tahayul, sedangkan kahin/dukun
masih menghubungkan segala sesuatu dengan hal yang di luar jangkauan
akal.
Mesir
Mesir di masa Fir’aun telah memiliki peradaban yang tinggi
mengungguli peradaban bangsa lain, termasuk di dalamnya ilmu kedokteran.
Pada masa Fir’aun Ramses II (sekitar + 1200 tahun sebelum masehi) di
kota Thebe dan Memphis telah didirikan pusat pengkajian ilmu kedokteran.
Di Mesir pun dikenal dua macam pengobatan; Pertama dengan khahin
(dukun) yang meminta bantuan pada jin berupa sihir-sihir. Di masa itu
dikenal pula pembedahan namun dilakukan hanya dengan menggunakan
telunjuk dan dikatupkan kembali dengan ibu jari, dan konon tidak
meninggalkan bekas, selain itu juga dikenal pula pengobatan pijat jarak
jauh, pengobatan ini dilakukan oleh kahin-kahin (dukun-dukun) yang telah
meminta bantuan jin lewat sihir-sihir mereka. Kedua dengan pengobatan
ilmiah. Pengobatan ini hingga saat ini telah membuat takjub ilmu
kedokteran modern saat ini. Mereka telah mampu melakukan pembedahan
besar. Perkembangan kedokteran Mesir telah mengenal anastesi yang
dinamakan Taftah. Mereka pun telah mengenal cara diagnosa dengan
menggunakan detak nadi pasien. Diagnosa warna lidah pun telah dikenal
saat itu. Dapat disimpulkan metode kedokteran di masa Mesir telah maju.
Persia
Bangsa Persia merupakan serumpun dengan bangsa Aria India, Yunani,
Romawi, Isbanji, Jerman dan rumpun Aria Eropa. Bangsa ini hidup pada
sekitar 3000 tahun sebelum masehi. Ilmu Kedokteran pada masa itu sangat
tinggi. Mereka mengkitabkan ilmu kedokteran dalam lempengan tanah liat,
kulit dan lembaran tembaga. Aksara yang digunakan adalah tulisan paku
yang berasal dari aksara Sumeria.
Cabang ilmu kedokteran yang berkembang pada masa itu adalah;
kedokteran mata -berkembang di kota Syahran, kedokteran kandungan di
kota Madyan dan kedokteran umum di kota Jundi Kirman. Metode bedah yang
dikembangkan sangat baik mereka sangat baik dalam menjahit kembali
bagian tubuh yang dibedah. Mereka menggunakan afium (opium) sebagai
anastesi (pembiusan). Alat-alat kedokteran pun telah berkembang sangat
baik, mereka telah menggunakan logam sebagai alat kedokteran &
bedah.
Untuk sekolah kedokteran mereka sangat tertata rapi. Mereka memiliki
kurikulum yang sudah terstruktur baik, dengan tingkat-tingkat pemahaman
yang diberikan.
Hindustan
Hindustan kita kenal dengan sistem kasta atau strata sosialnya.
Kasta-kasta tinggi menjadi penguasa dan kasta rendah menjadi pekerja.
Begitu pula dalam kedokteran, ilmu kedokteran Hindustan banyak
dimonopoli oleh kasta Brahmana dan beberapa orang dari kasta Ksatria.
Lembaga pengkajian kedokteran sudah sangat maju di sana, diantaranya
terdapat di Mathura, Pataliputra dan Indraprahasta. Di Hindustan
berkembang berbagai macam metode kedokteran; Pertama yang berasaskan
agama, yang berpangkal pada Atharwaweda (weda) atau Ayurweda. Kedua
metode tidak berasaskan agama, melainkan berasaskan ilmu kedokteran
murni. Ketiga metode campuran, yaitu metode kedokteran yang dicampur
dengan sihir.
Pengobatan yang bersumber dari kitab Weda sertakitab-kitab Upanisad
dan Ramapitara antara lain: penyembuhan dengan terapi pernafasan yang
biasa disebut Yoga, penyembuhan dengan terapi upawasa (puasa) dan tapa,
penyembuhan dengan terapi Dahtayana (tenaga dalam) hingga pengobatan
dengan perabaan jarak jauh. Ada juga pengobatan dengan terapi air,
pengobatan dengan tusukan dan bedah. Dalam kitab Hindu “Susruta Samhita”
diceritakan bahwa Susruta dapat membentuk telinga buatan pada seorang
yang telinganya terpotong. Susruta ini sebenarnya adalah seorang tabib
bedah saat itu, namun tabib-tabib Hindustan setelahnya selalu memejamkan
mata, memanggil nama Susruta agar membantu dalam pembedahan secara
gaib. Dalam hal ramuan obat, peramu obat Hindustan hampir sama dengan
peramu dari Persia.
Walaupun tabib-tabib Hindustan sudah sangat maju dalam pengobatan,
mereka masih mencampurkan antara ilmu kedokteran dengan praktek kahin
(perdukunan). Kemajuan yang gemilang yang didapat dari pengobatan
Hindustan adalah, tabib-tabib mereka telah dapat melakukan pembedahan
minor pada daging tumbuh dan semacamnya.
Suriah & Iskandariah
Kedokteran bangsa Suriah dan Iskandariah masih berpangkal pada ilmu
kedokteran Mesir Purba dan ilmu kedokteran Funisia. Kitab-kitab
kedokteran bangsa suriah ditulis dalam bahasa Suryani, yaitu bahasa
serumpun Arab. Cabang-cabang kedokteran yang berkembang di Suriah
adalah: (1) Pengobatan al-kayy yang dikenal dengan pengobatan al-kayy
Syam. (2) Pembedahan besar dan pembedahan kecil (3) Lasah (fisioterapi)
otot, syaraf dan tulang (4) Pengobatan al-hijamah / bekam dan fashid.
(5) pengobatan dengan ramuan herbal.
Pada masa agama Nasrani berkembang di Suriah, ilmu kedokteran Suria
mengalami kemunduran. Rahib-rahib Nasrani ikut turun tangan mengobati
pesakit menggantikan tabib-tabib. Mereka membawakan pengobatan doa dan
pengampunan, perabaan kasih Al-Masih, percikan air suci Maria, sentuhan
Salib Suci dan lainnya mirip kahin-kahin (dukun) Dewa Ba’al. Hampir
semua penyakit dihubungkan dengan kutukan, dosa dari Nabi Adam dan Hawa
dan semua itu harus ditebus dengan perabaan kasih Al-Masih, percikan air
suci Maria, sentuhan Salib Suci dan lainnya.
Seorang gila dianggap kerasukan setan dan kena rayuan bisikan Iblis.
Setan itu bermukim di kepala orang gila tersebut oleh karenanya perlu
dikeluarkan dengan jalan memahat kepala orang gila tersebut agar
setannya keluar dari lobang pahatan, Pengobatan semacam ini terdapat
juga di Iskandariah, Romawi sampai ke Andalusia pada kurun waktu 1500
Masehi.
Romawi & Yunani
Sejarah Yunani dan Romawi telah ada semenjak 500 tahun sebelum
Masehi. Di sana telah banyak dokter/tabib terkenal, namun dokter/tabib
Yunani dan Romawi biasanya merangkap sebagai kahin (dukun) atau
sebaliknya. Kahin-kahin tersebut dianggap sebagai perantara bagi
dewa-dewa Olympus. Bentuk pemujaan dewa-dewa tersebut tecermin dari
penggunaan nama dan simbol keagamaan Yunani dan Romawi.
Dalam hal penggunaan nama, istilah dan lambang hingga saat ini pun
masih digunakan nama, istilah dan lambang yang berpangkal dari simbol
keagamaan Yunani dan Romawi purba dan tidak sedikit dokter-dokter muslim
terbawa latah mengikutinya.
Di antara nama-nama yang digunakan dalam kedokteran modern saat ini adalah:
- Aesculapius: dewa obat-obatan berwujud ular
- Hygeia: dewi kesehatan
- Psyiko: dewa kejiwaan
- Venus: dewi kebirahian
Adapun lambang-lambang yang masih digunakan sekarang adalah:
- Lambang Piala dan Ular
- Lambang Tongkat dan Ular
- Tanda Rx, “Recipe-Recipere” (diberikan atau diambilkan)
Semua lambang berasal dari “Lambang Altar” Dewa Jupiter atau Zeus Pater.
Lambang ini dianggap sebagai azimat penangkal dan induk penyembuhan.
Tabib-tabib Yunani biasa menuliskan surat obat (resep) yang terdapat
tulisan “semoga Dewa Jupiter segera memberikan kesembuhan”
Kita dapat melihat bentuk ikut-ikutnya dokter saat ini dalam sebuah
ajaran agama pagan yang mengimani dewa dan dewi Yunani dalam sumpah
kedokteran modern yang kita kenal dengan Sumpah Hippokrates;
I swear by Apollo Physician and Asclepius and Hygieia and
Panaceia and all the gods and goddesses, making them my witnesses, that I
fulfil according to my ability and judgement this oath and this
covenant.
Saya bersumpah demi (Tuhan) … bahwa saya akan memenuhi sesuai
dengan kemampuan saya dan penilaian saya guna memenuhi sumpah dan
perjanjian ini.
Now if I carry out this oath, and break it not, may I gain
for ever reputation among all men for my life and for my art; but if I
transgress it and forswear myself, may the opposite befall me.
Apabila saya menjalankan sumpah ini, dan tidak melanggarnya,
semoga saya bertambah reputasi dimasyarakat untuk hidup dan ilmu saya,
akan tetapi bila saya melanggarnya, semoga yang berlawanan yang terjadi.
And whatsoever I shall see or hear in the course of my
profession, as well as outside my profession in my intercourse with men,
if it be what should not be published abroad, I will never divulge,
holding such things to be holy secrets.
Dan apa pun yang saya lihat dan dengar dalam proses profesi saya,
ataupun di luar profesi saya dalam hubungan saya dengan masyarakat,
apabila tidak diperkenankan untuk dipublikasikan, maka saya tak akan
membuka rahasia, dan akan menjaganya seperti rahasia yang suci.
Into whatsoever houses I enter, I will enter to help the
sick, and I will abstain from all intentional wrongdoing and harm,
especially from abusing the bodies of man or woman, slave or free.
Ke dalam rumah siapa pun yang saya masuki, saya akan masuk untuk
menolong yang sakit dan saya tidak akan berbuat suatu kesalahan dengan
sengaja dan merugikannya, terutama menyalahgunakan tubuh laki-laki atau
perempuan, budak atau bukan budak.
To hold him who has taught me this art as equal to my parents
and to live my life in partnership with him, and if he is in need of
money to give him a share of mine, and to regard his offspring as equal
to my brothers in male lineage and to teach them this art-if they desire
to learn it-without fee and covenant; to give a share of precepts and
oral instruction and all the other learning of my sons and to the sons
of him who instructed me and to pupils who have signed the covenant and
have taken an oath according to medical law, but to no one else.
Memperlakukan guru yang mengajarkan ilmu (kedokteran) ini kepada
saya seperti orangtua saya sendiri dan menjalankan hidup ini bermitra
dengannya, dan apabila ia membutuhkan uang, saya akan memberikan, dan
menganggap keturunannya seperti saudara saya sendiri dan akan
mengajarkan kepada mereka ilmu ini bila mereka berkehendak, tanpa biaya
atau perjanjian, memberikan persepsi dan instruksi saya dalam
pembelajaran kepada anak saya dan anak guru saya, dan murid-murid yang
sudah membuat perjanjian dan mengucapkan sumpah ini sesuai dengan hukum
kedokteran, dan tidak kepada orang lain.
I will use treatment to help the sick according to my ability
and judgment, but never with a view to injury and wrongdoing. neither
will I administer a poison to anybody when asked to do so, not will I
suggest such a course.
Saya akan menggunakan pengobatan untuk menolong orang sakit
sesuai kemampuan dan penilaian saya, tetapi tidak akan pernah untuk
mencelakai atau berbuat salah dengan sengaja. Tidak akan saya memberikan
racun kepada siapa pun bila diminta dan juga tak akan saya sarankan hal
seperti itu.
Similarly I will not give to a woman a pessary to cause an
abortion. But I will keep pure and holy both my life and my art. I will
not use the knife, not even, verily, on sufferers from stone, but I will
give place to such as are craftsmen therein.
Juga saya tidak akan memberikan wanita alat untuk menggugurkan
kandungannya, dan saya akan memegang teguh kemurnian dan kesucian hidup
saya maupun ilmu saya. Saya tak akan menggunakan pisau, bahkan alat yang
berasal dr batu pada penderita(untuk percobaan), akan tetapi saya akan
menyerahkan kepada ahlinya.
Sumpah Hippocrates itu mengundang 8 buah nasehat atau peringatan yaitu :
- Mengajarkan Ilmu Kedokteran kepada mereka yang berhak menerimanya.
- Mempraktekan Ilmu Kedokteran hanya untuk memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi pasien.
- Tidak mengerjakan sesuatu yang berbahaya bagi pasien.
- Tidak melakukan keguguran buatan yang bersifat kejahatan.
- Menyerahkan perasat-perasat tertentu kepada teman-teman sejawat ahli dalam lapangan yang bersangkutan.
- Tidak mempergunakan kesempatan untuk melakukan kejahatan atau godaan yang mungkin timbul dalam mengerjakan praktek kedokteran.
- Hidup dalam keadaan suci dan sopan santun.
- Memelihara rahasia jabatan.
Sumpah Hippocrates tersebut telah dijadikan dasar penyusunan sumpah
dokter sebagai yang telah dikukuhkan oleh Mukhtamar Ikatan Dokter
Sedunia (The Word Medical Association) di kota Geneva dalam tahun 1948, yang kemudian di kenal sebagai “Deklarasi Geneva” 1948.
Adapun sumpah kedokteran muslim yang sekarang disebut dengan istilah “Kode Etik Profesi” adalah sebagai berikut.
“Saya bersumpah dengan nama ALLAH yang Maha Agung dan Nabi-Nya yang
Mulia Muhammad SAW untuk menjadi orang yang dipercaya, berpegang teguh
pada syarat-syarat kemuliaan dan kebaikan dalam melaksanakan profesi
kedokteran. Saya akan mengobati orang-orang miskin secara gratis, tidak
meminta upah yang melebihi upah pekerjaan saya. Jika saya memasuki
rumah, mata saya tidak akan melihat segala apa yang terjadi didalamnya,
lidah saya tidak akan mengucapkan rahasia-rahasia yang diamanatkan
kepada saya. Saya tidak akan menggunakan hasil kerja saya untuk merusak
ahlak yang terpuji, tidak akan bantu membantu untuk melakukan dosa.
Selamanya tidak akan memberi racun atau menunjukkannya, tidak akan
memberi obat yang ada bahayanya bagi orang yag hamil, juga tidak akan
menggugurkan kandungannya. Saya akan menjadi orang terhormat, mejaga
kebaikan orang-orang yang mengajari saya dengan mengajari anak-anak
mereka sepadan dengan apa yang saya pelajari dari orang tua meraka.
Selama saya perpegang teguh dengan janji saya dan dapat dipercaya dengan
sumpah saya tersebut, maka semua manusia menghormati saya. Jika saya
melanggar itu, maka saya siap menjadi orang yang terhina.” ALLAH
menjadi saksi atas apa yang saya ucapkan.
Sumber:
Pengantar Kedokteran Islam, materi kuliah di Akademi Thibbun Nabawi oleh dr. Usman At-Tarmum
Karakteristik Dokter Muslim oleh DR.Majid Ramadhan . Penerbit Pustaka Al-Kaustar.
Makalah dari internet tentang perkembangan Kedokteran Islam